Mengapa iklan harus belanja ?
Mungkin masih sangat asing dipendengaran Anda satu istilah "Belanja iklan" IKLAN kok belanja ?
Ya... bener, belanja iklan. Jadi jelasnya perusahaan-perusahaan mempunyai anggaran khusus untuk pengeluaran iklan. Harap diketahui bahwa iklan adalah salah satu andalan yang sangat mempengaruhi kesuksesan suatu produk.
Coba bayangkan Kalau Anda punya produk bagus, sangat bermanfaat dan diikuti harga yang kompetitif, tapi Anda tidak melakukan publikasi sama sekali, lalu apa jadinya? Produk Anda tidak dikenal orang banyak, siapa yang mau beli karena orang tidak tahu keberadaan Anda, produk Anda dan harga yang Anda tentukan.
Ada beberapa pelaku bisnis yang menganggap bahwa bisnisnya tanpa iklan toh juga sudah dikenal dan dicari pembeli.
Pertanyaan muncul ... apa iya dia tidak mengiklankan bisnisnya.
Bukankah dia secara tidak sengaja mempublkasikan bisnisnya. Dengan membuka pintu, mengerjakan produksi tidak didalam kamar tertutup, mungkin mengadakan pengkemasan atau mengerjakan ditempat dimana orang lain tahu. Yang sebenarnya hal tsb sudah masuk kategori "publikasi" / "iklan"
Mari kita lihat angka yang fantastik untuk belanja iklan tahun 2011 yang belum selesai ini.
Kuartal I 2011
Belanja Iklan Tumbuh 20 Persen
JAKARTA, KOMPAS.com - Data terbaru Nielsen’s Advertising Information Services menunjukkan, belanja iklan selama kuartal pertama tahun 2011 mencapai Rp 15,6 triliun atau tumbuh 20 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut data belanja iklan kotor yang dipantau Nielsen, Selasa (3/5/2011), disebutkan 95 surat kabar serta 165 majalah dan tabloid selama kuartal pertama 2011, media televisi masih mendominasi pangsa iklan.
"Televisi masih mendominasi dengan meraup 62 persen dari total belanja iklan kuartal pertama. Belanja iklan di televisi meningkat 21 persen dari periode yang sama tahun lalu," kata Senior Manager of Media Client Services Nielsen Tri Susanti Simangunsong di Jakarta.
Setelah televisi, ia menjelaskan, media yang meraup pendapatan dari belanja iklan besar adalah surat kabar dengan pangsa 35 persen, naik 20 persen dari kurun yang sama tahun lalu.
Majalah dan tabloid, lanjut dia, menempati posisi ketiga dengan pangsa iklan tiga persen, tumbuh 10 persen dari kuartal pertama tahun 2010.
Sementara pebelanja iklan paling besar selama kuartal pertama 2011, menurut Nielsen, masih perusahaan telekomunikasi, yang menghabiskan Rp 1,2 triliun untuk beriklan. "Meski belanja iklan telekomunikasi berkurang tujuh persen dari kuartal yang sama tahun lalu, mereka masih yang terbesar," kata Tri. Produk dengan belanja iklan terbesar kedua setelah telekomunikasi, lanjut dia, adalah produk susu pertumbuhan dengan nilai belanja Rp 497 miliar selama kuartal pertama 2011.
Belanja iklan susu pertumbuhan tercatat tumbuh 98 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kategori produk yang belanja iklannya juga tumbuh tinggi pada kuartal pertama tahun 2011, menurut Tri, adalah produk mobil dan motor.
Menurut data Nielsen, belanja iklan mobil dan motor masing-masing naik 80 persen dan 49 persen. "Pada kwartal pertama tahun ini, kami melihat lebih banyak variasi dalam daftar pebelanja iklan terbesar di semua media, tak lagi didominasi produk telekomunikasi. Merek telekomunikasi hanya mencakup empat dari sepuluh pebelanja terbesar," katanya. Belanja produk-produk seperti susu pertumbuhan, mobil dan motor yang tumbuh tinggi mulai menggeser posisi sebagian produk telekomunikasi sebagai pebelanja iklan terbesar.
Sumber : ANT
21.32
Cinta Renjana
Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar